Suatu ketika, sampah dan limbah sebagai benda buangan bakal sederajat dengan bahan bakar minyak bumi yang makin langka. Apakah itu bualan belaka? Yang jelas, sampah kini menjadi pilihan para ahli energi alternatif untuk menghasilkan listrik.Itulah yang sedang dikembangkan para ahli dari Departemen Mikrobiologi, Institut Bioteknologi Universitas Minnesota, Amerika Serikat. Mereka menemukan, suatu bakteri, shewanella, yang sering ditemukan di air dan tanah, mampu mengubah komponen organik seperti lactic acid menjadi energi listrik. "Para ahli sudah lama mengetahui shewanella mampu menghasilkan listrik, tapi tidak tahu bagaimana proses terjadinya. Kini kami tahu bagaimana bakteri itu melakukannya," kata Daniel Bond, pimpinan tim peneliti, kepada pers.Daniel Bond, Jeffrey Gralnick, dan sejumlah anggota tim ahli lainnya memaparkan hasil penelitian mereka pada jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences, Maret lalu. Tim itu menyimpulkan, bakteri-bakteri yang dikembangkan pada elektroda secara alamiah memproduksi senyawa riboflavin, yang dikenal sebagai vitamin B2.Riboflavin juga dikenal mampu membawa partikel elektron dari bakteri itu menuju elektroda. Ini mengakibatkan meningkatnya produksi listrik hingga 370%. Karena itu, jika ingin memacu produksi listrik pada shewanella, cukup dengan cara meningkatkan kadar riboflavinnya.Temuan itu, menurut Bond, membuka cakrawala baru pengolahan limbah dan sampah. Produksi listrik bakteri-bakteri yang terkandung dalam limbah dapat ditingkatkan dengan menambah unsur riboflavin.Tak hanya tim Bond yang getol meneliti bakteri penghasil listrik. Para ahli dari University of Birmingham telah menggabungkan dua jenis bakteri dalam sebuah bioreaktor untuk menghasilkan hidrogen sebagai bahan bakar. Menurut Mark Redwood, ketua tim peneliti University of Birmingham, sejumlah mikroorganisme tertentu mengambil energi yang dibutuhkan dengan melepaskan senyawa hidrogen di lingkungan mereka."Mikroba seperti heterotrophs, cyanobacteria, dan microalgae memproduksi biohidrogen sesuai dengan cara masing-masing," kata Redwood.Walau masih dalam tahap awal percobaan, Redwood percaya, jasad-jasad renik itu dapat dikembangkan untuk menghasilkan bahan bakar. Redwood melaporkan penelitiannya dalam jurnal Microbiology Today, edisi Agustus. Selain itu, Redwood juga menemukan, sejumlah enzim yang dihasilkan bakteri itu dapat digunakan untuk menguraikan sisa-sisa pembakaran kendaraan bermotor. "Jadi, bioteknologi yang akan dikembangkan benar-benar bersih dan bermanfaat," ujarnya.Tentu saja temuan bakteri penghasil listrik dan hidrogen itu masih perlu dikembangkan. Tapi, sejauh ini, pintu rintisan telah terbuka.
Selasa, 18 November 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar